Gedung Departemen Arsitektur Universitas Indonesia memiliki selasar yang mengitari bangunannya. Selasar yang sebenarnya adalah ruang untuk sirkulasi barang dan manusia sering mengalami reproduksi ruang. Selasar di sana sering dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi para mahasiswanya, terutama di luar jam-jam kuliah. Para mahasiswa sering berkumpul untuk mengerjakan tugas bersama, berdiskusi, pertemuan dan rapat organisasi atau kepanitiaan, maupun sekadar duduk berbincang-bincang.
Terlihat sebuah fenomena yang menyimpang dari peruntukan ruang sebenarnya. Selasar tereproduksi menjadi ruang yang lebih aktif dan hidup. Selasar, yang esensinya merupakan ruang sirkulasi dengan laju mobilitas pengguna yang tinggi berubah menjadi titik pause dengan aktivitas menetap. Apalagi dengan hadirnya mading di sepanjang sisi selasar yang turut menahan laju pergerakan manusia di selasar.
Lalu apa yang salah? Menurut saya tidak ada. Ruang bertumbuh seiring dengan kebutuhan pengguna, ruang yang baik justru ruang yang fleksibel dan memiliki affordance yang tinggi. Di sinilah timbul sense of belonging dan sense of awareness terhadap ruang publik, dan secara tidak langsung pengguna ikut menjaga keberadaannya. Warga, terutama mahasiswa memiliki kebutuhan ruang untuk berinteraksi dan bersosialisasi, yang didapatkan di selasar kami, SelasArs (Selasar Arsitektur). Terkadang, selasar juga dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan, misalnya pameran dan presentasi tugas kuliah, sehingga terlihat bahwa pihak pengampu pun turut mengambil manfaat dari pengalihfungsian ruang selasar ini.
Memang ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan karena pemanfaatan selasar sebagai ruang berkumpul, terhambatnya laju sirkulasi pada selasar. Terkadang mahasiswa lain terpaksa memutar arah lewat jalur lain untuk menghindari titik keramaian berkumpul. Namun, hal ini tidak terlalu menjadi masalah karena selama ini semua berjalan dengan lancar. Lagipula kegiatan berkumpul di selasar lebih sering terjadi pada jam-jam luar kuliah dan aktivitas pengguna sirkulasi tidak terlalu ramai. Selain itu, secara tidak langsung terjadi kontrol sosial bagi para pengguna selasar.
Jadi, selasar tidak hanya berfungsi sebagai ruang sirkulasi, tetapi juga dapat menjadi ruang perhentian dan aktivitas menetap. Justru melalui fungsi sekunder inilah selasar lebih terasa manfaatnya bagi para penggunanya. Bukan desain yang mengatur pola perilaku penggunanya, tetapi pengguna yang mendefinisikan fungsi ruang tersebut saat dipakai. Sebuah perancangan yang hidup dan fleksibel. Selasar yang menjadi saksi bisu keseharian aktivitas mahasiswa, wadah interaksi dan sosialsisasi yang efektif, itulah Selasars, Selasar Arsitektur FTUI.

Advertisements