Archive for July, 2012


Jangan Bentak Bejo

(Bejo saat masih TK)

“Bejo!! Kenapa kamu gak beresin mainanmu!!?” kata Papi.

Bejo menjawab: “Ntar kan bakal dimainin lagi Pi, aku mau e’ek dulu.”

“Beresin dulu e’ek-nya!! Eh, beresin dulu mainannya!! E’ek-nya ditahan dulu!!” Papi menjawab.

“Tapi…tapi…Pi…Papi… aku dah ga tahan nih…” sahut Bejo sambil memegangi pantatnya, bukan pantat Papi lho…

“Oooo!! Berani ngelawak, eh…ngelawan kamu!!?”

“Aaakkk!!” teriak Bejo

Brebet…bret…breett… (Bejo dah ga’ bisa nahan lagi)

(Selanjutnya…terserah papi…)

Pernahkah suatu ketika, Anda melihat seorang anak kecil diperlakukan tidak baik oleh orangtuanya sendiri? Anak sering dibentak-bentak, kalau ada salah sedikit saja, misalnya lupa membereskan mainannya, langsung diomelin, dengan intonasi yang keras dan terasa mengintimidasi. Lalu, kalau kesabaran si mami atau papi sudah habis, mulai main tangan, main tangan di sini bukan berarti mainin tangan dipegang-pegang, dipencet-pencet, atau dicoret-coret… tetapi memakai tangan sebagai salah satu persenjataan mutakhir orangtua untuk “mendidik” anaknya. bisa untuk memukul, mencubit, menjewer, bahkan meninju anaknya, serasa sedang bermain smackdown. Bahkan, lama-lama mami papi itu lama-lama bisa keasyikan bermain “didik-mendidik” memakai kakinya juga, tidak perlu disebutkan untuk apa kan? Pastinya bukan untuk main loncat tali.

Penggalan dialog papi dan Bejo di atas adalah salah satu contoh dari rekonstruksi peristiwa di dunia maya, yang menjadi intinya adalah perilaku kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Di jaman sekarang, saat londo-londo sudah tidak menjajah kita lagi, masih ada saja para mami-papi yang mendidik anaknya dengan cara penjajah. Menjajah mentalitas dan perkembangan psikologis sang anak. Si Bejo bukannya menurut dan mengerti justru menjadi tertekan dan takut terhadap orangtuanya sendiri, ia jadi serba salah. Mau gini takut salah, mau gitu takut salah, akhirnya berujung pada terhambatnya kreativitas anak. Hal lain yang dapat terjadi adalah anak justru menjadi kebal omelan dan pukulan, bukan karena ia punya ilmu kebal ajian sakti mandraguna, tetapi karena ia terbiasa dengan kondisi tersebut dan jadi tidak takut dimarahi lagi. Dampaknya, anak makin ngelunjak, orangtua makin galak, bisa-bisa adu timpuk bakiak.

Anak adalah cerminan orangtua, mungkin sebagian seperti itu. Perilaku tersebut dapat menumbuhkan perilaku yang sama pada anak, dan dia dapat menerapkannya pada teman atau adiknya. Bahaya kalau sampai jadi sistem multi level bullying (MLB) kan? Perilaku itu telah tertanam dalam alam bawah sadar anak dan menjadi trauma yang dalam dan sulit dihilangkan. Anak mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya dan dapat menuju ke dua arah perkembangan, ia menjadi introvert dan penakut, atau sebaliknya, ia menjadikan dirinya pentolan anak nakal dan menganiaya teman-temannya.

(bejo saat kelas V SD)

“Heh!! Sini mainanmu!! Buat aku!” bentak Bejo.

“Ga bisa, ini kan punyaku.” kata temannya.

“Eeeh!! Berani ngelawak, eh… ngelawan kamu!!?” ancam Bejo.

“Aaakk!!” teriak temannya.

(selanjutnya…terserah Bejo…)

atau seperti ini…

“Heh!! Sini mainanmu!! Buat aku!” ini temannya Bejo.

““Ga bisa, ini kan punyaku…” ini baru Bejo.

“Eeeh!! Berani ngelawan kamu!!?” ancam temannya.

“Uuugh..” ini suara Bejo.

Brebet…bret…breett…

 

Anak ibarat mesin fotokopi yang berjalan, dia memiliki rasa ingin tahu yang sangaaaat besar dan menyerap banyak hal baru dari lingkungannya. Tentunya, perilaku negatif semacam itu perlu dijauhkan dari anak-anak. Terkadang yang menjadi penyebab kekerasan terhadap anak adalah karena orangtua kehabisan kesabaran terhadap perilaku anak. Lama-lama hal itu justru menjadi kebiasaan, sedikit saja si Bejo salah langsung dibentak. Terkadang orangtua menuntut banyak dari anak tetapi sulit memberi teladan yang baik. Berikan contoh yang baik di depan anak, memberi contoh sikap sabar dan sayang pada anak menurut saya adalah cara yang baik dan tentunya dengan cara yang menyenangkan. Ada ungkapan “diamond cut diamond”, anak bagai berlian yang belum diasah, untuk membentuknya perlu hati berlian pula yang tekun dan ulet, semoga yang dihasilkan pun berlian yang indah dan berharga bagi semua orang disekitarnya, amiiin.

“Bejo, kok mainannya masih berantakan?” kata Papi.

Bejo menjawab: “Ntar kan bakal dimainin lagi Pi, aku mau e’ek dulu.”

“Oo, mau buang air besar? Tapi setelah ini mainannya diberesin ya.” Papi menjawab.

“Tapi…tapi…Pi…Papi… kan abis ini masih mau main…” sahut Bejo sambil memegangi pantatnya.

“Iyaa…beresinnya setelah main saja.”

“Iya Pi, ntar kuberesin kalo udahan mainnya.” sahut Bejo

Brebet…bret…breett… (Bejo dah ga’ bisa nahan lagi)

(Selanjutnya…masih terserah papi…mampukah Papi menahan emosinya??)

 

 

Advertisements

Apakah yang dimaksud dengan keindahan/estetika? Menurut oxford dictionary, keindahan adalah nilai-nilai yang menyenangkan pikiran, mata dan telinga. Menurut filsuf Socrates, sesuatu itu indah kalau sesuai dengan tujuan atau dengan fungsinya atau kegunaannya. Menurut Plato, bentuk-bentuk menjadi indah dalam proporsi dimana unsur-unsurnya disatukan secara harmonis ditujukan kepada bentuk ideal. Sementara menurut Hegel, indah adalah mengekspresikan kesan agung dan luhur melalui cara menyajikan yang paling sempurna. Baumgarten mengatakan keindahan adalah kesempurnaan yang ada pada alam. Sedangkan, Aristoteles mengatakan keindahan terdapat dalam kesantaian. Keindahan wujud didapat dari sesuatu yang nyata, dapat dihitung, dapat diukur. Ia dapat dicapai melalui kaidah pengaturan : kesatuan, keseimbangan, proporsi, skala, irama, keselarasan. Sedangkan keindahan ekspresi timbul dari pengalaman, referensi dan pengamatan.

Kesatuan yaitu tersusunnya beberapa unsur menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi. Keseimbangan adalah suatu nilai yang ada pada setiap objek yang daya tarik visualnya di kedua sisi pusat keseimbangan atau pusat daya tarik adalah seimbang. Ada dua bentuk keseimbangan, bentuk keseimbangan simetris dan asimetris. Proporsi terjadi kalau dua buah perbandingan adalah sama. Sedangkan sebuah bangunan dikatakan mempunyai skala jika bangunan tersebut dapat menunjukkan ukuran besarnya atau kecilnya dengan jelas sebagaimana tujuannya. Skala heroik, diperoleh dengan satuan-satuan unsur berukuran besar, lebih besar dari ukuran biasa. Skala natural, diperoleh dengan pemecahan masalah fungsional secara wajar. Skala intim, diperoleh dengan memakai ornamen yang lebih besar dari biasanya. Kemudian, irama adalah pengulangan ciri secara sistematis dari unsur-unsur perancangan bangunan, seperti kolom, perbedaan warna, garis. Unsur-unsur keindahan dapat diterjemahkan lewat pengaturan titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna, dan material.

Salah satu usaha menghasilkan keindahan dilakukan pada pengerjaan detil. Detil dalam arsitektur didefinisikan sebagai bagian dari massa yang lebih besar atau bagian dari ide. Serta berarti sebuah kualitas kerumitan dan kekhususan. Dimulai dari pengolahan bahan bangunan menjadi sebuah pengalaman arsitektural, termasuk cara ia dipakai dan dipasang sesuai konteks. Terkadang detil berperan sebagai sebuah penanda aksen bagi entitas desain. Beberapa bagian pada desain yang dijadikan sebagai penanda aksen tersebut akan menghasilkan sebuah fokus dan keintiman, yang pada akhirnya memberikan sebuah nilai keindahan. Detil menjadi esensial untuk menciptakan sebuah keserasian dan harmoni pada desain.

Ada dua jenis detil, detil yang ekspresif dan detil yang dirahasiakan. Semuanya itu harus dapat diselesaikan dengan baik dan memastikan kecocokan fungsinya. Detil ekspresif bersifat naratif, bercerita tentang tujuannya, pembuatannya, dan lokalitasnya. Detil ekspresif dapat menjadi cara bagi arsitek dalam menandai karya mereka, memiliki identitas keindahan karya mereka secara unik. Detil yang dirahasiakan berada pada ranah pekerjaan yang biasanya dianggap kurang menarik, perbaikan partisi dinding, langit-langit. Namun, ia dapat menjadi sangat khusus dan terlalu berlebihan dari segi teknis, misalnya dinding dengan perlakuan khusus yang memiliki layer-layer spesifik dengan performa tinggi.

Dalam detil desain, sering dikonsepkan secara terpisah dan di dalam batasan yang berdiri secara sendiri-sendiri. Jendela adalah jendela saja, atap hanya menjadi penutup massa, pencahayaan hanya sebagai komplementer, lantai hanyalah sebuah finishing saja. Maka, ketiadaan harmoni tersebut menyebabkan nilai keindahan seringkali tidak berhasil muncul pada desain yang telah dirancang. Pemakaian bahan menjadi tidak efisien. Beberapa bagian dapat memenuhi ruang dengan paksa sehingga membuat ruang manjadi terkesan janggal dan tidak efektif. Detil jadi terlihat membingungkan. Hal ini mengikis pendekatan estetikanya. Integrasi detil akan menjadikan beberapa unsur berbagi ruang, pengaturan komponen secara estetika dapat dilakukan dan berfungsi secara harmoni dan tidak saling mengganggu. Keindahan terwujud ketika detil dalam konteks ruang bersatu dengan tapak dan bangunan, bentuk dan fungsinya. Konteks ini mempertimbangkan lokasi, budaya, kebiasaan lokal, dan iklim lokal.

Sebagai contoh, sebuah pegangan pintu. Ia berperan lebih dari sekedar detil fungsional. Pegangan pintu dapat menjadi sebuah penanda awal ketika memasuki sebuah ruang. Sebagai sebuah penanda visual, skalanya tidak harus sekedar mengikuti proporsi fungsional. Namun, dapat berperan sebagai sebuah pengalaman dan interaksi menuju sebuah ruang yang berbeda. Di situlah keindahan dapat muncul.

Pengalaman ruang arsitektur bersifat multi indera, titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna, dan material, diukur oleh mata, telinga, hidung, kulit, lidah, tulang, dan otot. Melalui aroma yang didapat pada bahan bangunan, akustik yang terpengaruh oleh bahan, kehangatan yang dipancarkan, perasaan psikologis yang ditimbulkan, bahkan pengaruhnya terhadap memori dan emosi. Maka keindahan pada detil juga dipengaruhi aspek ergonomis, indera, pikiran, perasaan, emosi, dan perlakuan kita terhadap desain.

Salah satu wujud detail yang paling sederhana adalah sendi/sambungan. Sambungan adalah penghubung antara bahan bahan bangunan yang satu dengan yang lain, atau penghubung antar elemen-elemen ruang yang ada. Sambungan menggambarkan pertemuan-pertemuan antar elemen, cara dia bertemu dan saling terikat. Lengkung rendah pada karya arsitektur Kahn di Ahmedabad mendramatisir batu bata yang melawan keseimbangan diperkuat oleh beton tegang terpasang menyilang dari dasar. Pertemuan dua bahan bangunan yang berlawanan menciptakan kejujuran teknik, mengangkat pernyataan “oleh kemegahan sebuah kejujuran mampu membuat bangunan bertambah keindahannya” (“Contributions a une theorie de I’architecture”, Techniques et Architecture I, 2: Perret, Auguste: 1949).

Detil yang baik adalah nilai bagi ketepatan dan kesempurnaan dalam keindahan.  Banyak improvisasi kreatif dan nilai-nilai dalam karya para penerima penghargaan Aga Khan Award. Misalnya, Diebedo Francis, memanfaatkan batu bata lokal buatan tangan untuk merancang sebuah sekolah di desa Gando, Burkina Faso. Targetnya adalah membangun dengan biaya konstruksi yang rendah dan iklim yang responsif. Francis memperhatikan detil pada plafon insulasi yang terbuat dari bahan batu bata tanah liat dengan sebilah baja tipis yang kuat berderet di antara ruang kelas. Menghasilkan sebuah keindahan lokalitas dalam kesederhanaan.

Arsitek, secara cermat menciptakan perencanaan detil dalam mengatasi kekurangan dalam bahan bangunan. Le Corbusier menghadirkan kelemahan dalam kecermatan keahlian beton menjadi sebuah kecermatan dan menghadirkan permukaan sculptural khas pada karya béton brut. Ini adalah bagaimana seorang arsitek telah dengan kreatif, merancang dan menerjemahkan keterbatasan dan sumber daya, dan menghasilkan sebuah karya arsitektural yang cermat, mahir dan akan berdampak pada kemampuan karya tersebut untuk menjadi indah dengan sendirinya. Detil yang tercipta dengan baik bisa tidak tepat dan tidak sempurna tetapi diselesaikan dengan baik, menghasilkan keindahan yang jujur. Seperti menurut pernyataan Aristoteles, keindahan terdapat dalam kesantaian.

Contoh lokal terdapat pada sosok Y. B. Mangunwijaya atau biasa dikenal sebagai Romo Mangun. Romo Mangun sangat memahami bahan yang dipakai dalam karya-karyanya. Bamboo, kayu, bata, batu, kaca, besi, semua diolah dengan cara seksama dan cermat sehingga menghasilkan keindahan yang jujur. Keindahan yang tidak akan lekang oleh waktu, “pulchrum splendor est veritatis”, keindahan adalah pancaran kebenaran, yang selalu nampak pada karya-karyanya. Menurutnya, dengan kepekaan arsitek terhadap “watak” dan “warta” dari tiap bahan, dikombinasikan dengan pengerjaan yang matang, kesederhanaan dari tiap bahan bangunan yang dikerjakan akan lebih dapat menghasilkan keindahan dan kewibawaan. Menurutnya lagi, nilai keindahan dari sebuah karya arsitektural tidak dilihat dari sudut pandang kemewahan bahan atau kerumitan teknologi yang diterapkan, yang terkadang justru menimbulkan kesan angkuh.

Sementara, pada arsitektur Gothic, detil dikhususkan pada perhatian akan pengolahan cahaya sebagai bagian dari kualitas ruang dan unsur keindahan. Bila kita melihat interior suatu katedral Gothic, kita dapat melihat transparasinya dengan hasrat perancang untuk merepresentasikan ide mengenai Tuhan dalam bentuk cahaya dan ruang. Melalui permainan kaca patrinya, arsitektur gothic mengolah cahaya menjadi sebuah permainan yang menimbulkan kualitas keindahan lewat detil pada material transparan. Di sini detil pencahayaan telah menjadi penerjemahan kualitas murni sebuah keindahan visual, keindahan-keindahan atmosferik seperti diaphanitas (keterawangan), densitas (kepekatan), obscuritas  (kegelapan), dan umbria (bayangan). Kualitas – kualitas ini dengan tepat telah menunjukkan efek – efek spasial yang memancarakan keindahan ilahi.

Peran arsitek dan detil dalam desain arsitektur telah berkembang. Semakin banyak muncul tantangan-tantangan baru untuk menghasilkan karya-karya baru dengan keahlian-keahlian baru dalam usah menembus batas keindahan bahan bangunan dan keindahan pada permainan hubungan antar bahan bangunan. Perlunya kecermatan dalam pengolahan – pengolahan detil menjadi semacam keharusan untuk menghasilkan keindahan yang jujur, sederhana, dan tek lekang oleh waktu.

 

Daftar Pustaka

Budiharjo, Eko. 1983. Menuju Arsitektur Indonesia. Penerbit Alumni: Bandung

Mangunwijaya, Y. B. 1995. Wastu Citra. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

van de Ven, Cornelis. 1991. Ruang Dalam Arsitektur (rev). PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

headache

mudah mudahan masih muda

am I an architect ?

mudah mudahan masih muda

The Diary of A Knowledgeably Lass

mudah mudahan masih muda

Ichlas Bayu

Swing like a monkey, Blend like a chameleon

another life journal

just another ordinary people writing about another side of her ordinary life

dx-6 design studio

architecture | interior | research | urban

notes of lutfiprayogi

notes wished to be useful for everyone who read it

namaste

gibberish from pepperland

Sketchup Comedy

Bukankah arsitektur sudah lucu tanpa perlu berdiri?