Apakah yang dimaksud dengan keindahan/estetika? Menurut oxford dictionary, keindahan adalah nilai-nilai yang menyenangkan pikiran, mata dan telinga. Menurut filsuf Socrates, sesuatu itu indah kalau sesuai dengan tujuan atau dengan fungsinya atau kegunaannya. Menurut Plato, bentuk-bentuk menjadi indah dalam proporsi dimana unsur-unsurnya disatukan secara harmonis ditujukan kepada bentuk ideal. Sementara menurut Hegel, indah adalah mengekspresikan kesan agung dan luhur melalui cara menyajikan yang paling sempurna. Baumgarten mengatakan keindahan adalah kesempurnaan yang ada pada alam. Sedangkan, Aristoteles mengatakan keindahan terdapat dalam kesantaian. Keindahan wujud didapat dari sesuatu yang nyata, dapat dihitung, dapat diukur. Ia dapat dicapai melalui kaidah pengaturan : kesatuan, keseimbangan, proporsi, skala, irama, keselarasan. Sedangkan keindahan ekspresi timbul dari pengalaman, referensi dan pengamatan.

Kesatuan yaitu tersusunnya beberapa unsur menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi. Keseimbangan adalah suatu nilai yang ada pada setiap objek yang daya tarik visualnya di kedua sisi pusat keseimbangan atau pusat daya tarik adalah seimbang. Ada dua bentuk keseimbangan, bentuk keseimbangan simetris dan asimetris. Proporsi terjadi kalau dua buah perbandingan adalah sama. Sedangkan sebuah bangunan dikatakan mempunyai skala jika bangunan tersebut dapat menunjukkan ukuran besarnya atau kecilnya dengan jelas sebagaimana tujuannya. Skala heroik, diperoleh dengan satuan-satuan unsur berukuran besar, lebih besar dari ukuran biasa. Skala natural, diperoleh dengan pemecahan masalah fungsional secara wajar. Skala intim, diperoleh dengan memakai ornamen yang lebih besar dari biasanya. Kemudian, irama adalah pengulangan ciri secara sistematis dari unsur-unsur perancangan bangunan, seperti kolom, perbedaan warna, garis. Unsur-unsur keindahan dapat diterjemahkan lewat pengaturan titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna, dan material.

Salah satu usaha menghasilkan keindahan dilakukan pada pengerjaan detil. Detil dalam arsitektur didefinisikan sebagai bagian dari massa yang lebih besar atau bagian dari ide. Serta berarti sebuah kualitas kerumitan dan kekhususan. Dimulai dari pengolahan bahan bangunan menjadi sebuah pengalaman arsitektural, termasuk cara ia dipakai dan dipasang sesuai konteks. Terkadang detil berperan sebagai sebuah penanda aksen bagi entitas desain. Beberapa bagian pada desain yang dijadikan sebagai penanda aksen tersebut akan menghasilkan sebuah fokus dan keintiman, yang pada akhirnya memberikan sebuah nilai keindahan. Detil menjadi esensial untuk menciptakan sebuah keserasian dan harmoni pada desain.

Ada dua jenis detil, detil yang ekspresif dan detil yang dirahasiakan. Semuanya itu harus dapat diselesaikan dengan baik dan memastikan kecocokan fungsinya. Detil ekspresif bersifat naratif, bercerita tentang tujuannya, pembuatannya, dan lokalitasnya. Detil ekspresif dapat menjadi cara bagi arsitek dalam menandai karya mereka, memiliki identitas keindahan karya mereka secara unik. Detil yang dirahasiakan berada pada ranah pekerjaan yang biasanya dianggap kurang menarik, perbaikan partisi dinding, langit-langit. Namun, ia dapat menjadi sangat khusus dan terlalu berlebihan dari segi teknis, misalnya dinding dengan perlakuan khusus yang memiliki layer-layer spesifik dengan performa tinggi.

Dalam detil desain, sering dikonsepkan secara terpisah dan di dalam batasan yang berdiri secara sendiri-sendiri. Jendela adalah jendela saja, atap hanya menjadi penutup massa, pencahayaan hanya sebagai komplementer, lantai hanyalah sebuah finishing saja. Maka, ketiadaan harmoni tersebut menyebabkan nilai keindahan seringkali tidak berhasil muncul pada desain yang telah dirancang. Pemakaian bahan menjadi tidak efisien. Beberapa bagian dapat memenuhi ruang dengan paksa sehingga membuat ruang manjadi terkesan janggal dan tidak efektif. Detil jadi terlihat membingungkan. Hal ini mengikis pendekatan estetikanya. Integrasi detil akan menjadikan beberapa unsur berbagi ruang, pengaturan komponen secara estetika dapat dilakukan dan berfungsi secara harmoni dan tidak saling mengganggu. Keindahan terwujud ketika detil dalam konteks ruang bersatu dengan tapak dan bangunan, bentuk dan fungsinya. Konteks ini mempertimbangkan lokasi, budaya, kebiasaan lokal, dan iklim lokal.

Sebagai contoh, sebuah pegangan pintu. Ia berperan lebih dari sekedar detil fungsional. Pegangan pintu dapat menjadi sebuah penanda awal ketika memasuki sebuah ruang. Sebagai sebuah penanda visual, skalanya tidak harus sekedar mengikuti proporsi fungsional. Namun, dapat berperan sebagai sebuah pengalaman dan interaksi menuju sebuah ruang yang berbeda. Di situlah keindahan dapat muncul.

Pengalaman ruang arsitektur bersifat multi indera, titik, garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna, dan material, diukur oleh mata, telinga, hidung, kulit, lidah, tulang, dan otot. Melalui aroma yang didapat pada bahan bangunan, akustik yang terpengaruh oleh bahan, kehangatan yang dipancarkan, perasaan psikologis yang ditimbulkan, bahkan pengaruhnya terhadap memori dan emosi. Maka keindahan pada detil juga dipengaruhi aspek ergonomis, indera, pikiran, perasaan, emosi, dan perlakuan kita terhadap desain.

Salah satu wujud detail yang paling sederhana adalah sendi/sambungan. Sambungan adalah penghubung antara bahan bahan bangunan yang satu dengan yang lain, atau penghubung antar elemen-elemen ruang yang ada. Sambungan menggambarkan pertemuan-pertemuan antar elemen, cara dia bertemu dan saling terikat. Lengkung rendah pada karya arsitektur Kahn di Ahmedabad mendramatisir batu bata yang melawan keseimbangan diperkuat oleh beton tegang terpasang menyilang dari dasar. Pertemuan dua bahan bangunan yang berlawanan menciptakan kejujuran teknik, mengangkat pernyataan “oleh kemegahan sebuah kejujuran mampu membuat bangunan bertambah keindahannya” (“Contributions a une theorie de I’architecture”, Techniques et Architecture I, 2: Perret, Auguste: 1949).

Detil yang baik adalah nilai bagi ketepatan dan kesempurnaan dalam keindahan.  Banyak improvisasi kreatif dan nilai-nilai dalam karya para penerima penghargaan Aga Khan Award. Misalnya, Diebedo Francis, memanfaatkan batu bata lokal buatan tangan untuk merancang sebuah sekolah di desa Gando, Burkina Faso. Targetnya adalah membangun dengan biaya konstruksi yang rendah dan iklim yang responsif. Francis memperhatikan detil pada plafon insulasi yang terbuat dari bahan batu bata tanah liat dengan sebilah baja tipis yang kuat berderet di antara ruang kelas. Menghasilkan sebuah keindahan lokalitas dalam kesederhanaan.

Arsitek, secara cermat menciptakan perencanaan detil dalam mengatasi kekurangan dalam bahan bangunan. Le Corbusier menghadirkan kelemahan dalam kecermatan keahlian beton menjadi sebuah kecermatan dan menghadirkan permukaan sculptural khas pada karya béton brut. Ini adalah bagaimana seorang arsitek telah dengan kreatif, merancang dan menerjemahkan keterbatasan dan sumber daya, dan menghasilkan sebuah karya arsitektural yang cermat, mahir dan akan berdampak pada kemampuan karya tersebut untuk menjadi indah dengan sendirinya. Detil yang tercipta dengan baik bisa tidak tepat dan tidak sempurna tetapi diselesaikan dengan baik, menghasilkan keindahan yang jujur. Seperti menurut pernyataan Aristoteles, keindahan terdapat dalam kesantaian.

Contoh lokal terdapat pada sosok Y. B. Mangunwijaya atau biasa dikenal sebagai Romo Mangun. Romo Mangun sangat memahami bahan yang dipakai dalam karya-karyanya. Bamboo, kayu, bata, batu, kaca, besi, semua diolah dengan cara seksama dan cermat sehingga menghasilkan keindahan yang jujur. Keindahan yang tidak akan lekang oleh waktu, “pulchrum splendor est veritatis”, keindahan adalah pancaran kebenaran, yang selalu nampak pada karya-karyanya. Menurutnya, dengan kepekaan arsitek terhadap “watak” dan “warta” dari tiap bahan, dikombinasikan dengan pengerjaan yang matang, kesederhanaan dari tiap bahan bangunan yang dikerjakan akan lebih dapat menghasilkan keindahan dan kewibawaan. Menurutnya lagi, nilai keindahan dari sebuah karya arsitektural tidak dilihat dari sudut pandang kemewahan bahan atau kerumitan teknologi yang diterapkan, yang terkadang justru menimbulkan kesan angkuh.

Sementara, pada arsitektur Gothic, detil dikhususkan pada perhatian akan pengolahan cahaya sebagai bagian dari kualitas ruang dan unsur keindahan. Bila kita melihat interior suatu katedral Gothic, kita dapat melihat transparasinya dengan hasrat perancang untuk merepresentasikan ide mengenai Tuhan dalam bentuk cahaya dan ruang. Melalui permainan kaca patrinya, arsitektur gothic mengolah cahaya menjadi sebuah permainan yang menimbulkan kualitas keindahan lewat detil pada material transparan. Di sini detil pencahayaan telah menjadi penerjemahan kualitas murni sebuah keindahan visual, keindahan-keindahan atmosferik seperti diaphanitas (keterawangan), densitas (kepekatan), obscuritas  (kegelapan), dan umbria (bayangan). Kualitas – kualitas ini dengan tepat telah menunjukkan efek – efek spasial yang memancarakan keindahan ilahi.

Peran arsitek dan detil dalam desain arsitektur telah berkembang. Semakin banyak muncul tantangan-tantangan baru untuk menghasilkan karya-karya baru dengan keahlian-keahlian baru dalam usah menembus batas keindahan bahan bangunan dan keindahan pada permainan hubungan antar bahan bangunan. Perlunya kecermatan dalam pengolahan – pengolahan detil menjadi semacam keharusan untuk menghasilkan keindahan yang jujur, sederhana, dan tek lekang oleh waktu.

 

Daftar Pustaka

Budiharjo, Eko. 1983. Menuju Arsitektur Indonesia. Penerbit Alumni: Bandung

Mangunwijaya, Y. B. 1995. Wastu Citra. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

van de Ven, Cornelis. 1991. Ruang Dalam Arsitektur (rev). PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Advertisements